This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 04 Maret 2016

Buku Mamminasata



Bagian Pertama

Pembangunan Mamminasata dan Dampaknya di Pedesaan





A.    Pengantar
Pada awal tahun 80-an berkembang wacana untuk mengembangkan kota Makassar menjadi sebuah wilayah yang terintegrasi dengan wilayah-wilayah penyanggah di sekitarnya. Diskusi ini kemudian berkembang di kampus-kampus oleh akademisi, didiskusikan di tingkat pemerintah kota/kabupaten dan pemerintah provinsi hingga kemudian pada tahun 2003-2008 sebuh kajian yang lebih dalam mengenai pengembangan infrastruktur dan wilayah kota yang kemudian disebut Mamminasata dilakukan oleh  Japan International Cooperation Agency (JICA). Hasilnya berupa rekomendasi pembangunan empat proyek jalan mamminasata yang sekarang ini telah dan sedang dilaksanakan yakni Trans Sulawesi, Bypass Mamminasata, Jalan radial Abdullah Dg Sirua dan Jalan radial Hertasning. Jalan trans Sulawesi menghubungkan kabupaten maros, kota mkassar, kabupaten Gowa dan kabupaten Takalar. Kemudian bypass mamminasata adalah jalan lingkar tengah yang menguhubungkan Makassar dan kabupaten gowa.  Sementara jalan radial Abdullah dg sirua dan jalan hertasning adalah jalan tembus yang akan menghubungkan pusat kota Makassar dengan jalan bypass mamminasata.
Mamminasata adalah akronim dari empat nama kota/kabupaten: Maros, Makassar, Sungguminasa dan Takalar. Tetapi makna mamminasata kemudian berkembang bukan lagi sebagai sebuah akronim tetapi istilah untuk sebuah mega proyek pengembangan kota dan pembangunan infrastruktur jalan yang berbasis pada empat kabupaten kota yang terintegrasi menjadi sebuah kota besar Maminasata. Integrasi wilayah ini terutama bertumpu pada pembangunan infrastruktur – berupa pemeliharaan jalan lama, pembuatan jalan baru dan rekomendasi empat proyek jalan mamminasa- dan pertumbuhan ekonomi yang semakin luas.  "Tujuannya untuk memudahkan transportasi dan membuat kawasan pemukiman dan bisnis baru,".
Anggaran dana proyek pembangunan jalan mamminasata ini berasal dari dana pemerintah pusat sebesar Rp 815 miliar, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sebesar Rp 271,69 miliar dan biaya pembebasan lahan ditanggung oleh empat kabupaten/kota yang bersangkutan yang besarannya tergantung kesiapan kabupaten masing-masing.  Kepastian anggaran turun setelah pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang rencana tata ruang wilayah nasional yang menyinggung pembangunan jalur Mamminasata. Direncanakan pembangunannya dilakukan pada tahun 2010-1015. Hingga kini proyek pembangunan jalan yang telah rampung adalah jalan tembus hertasning dan jalan ring road tengah yang menghubungkan Makassar dan kabupaten gowa. Sementara jalan trans Sulawesi baru pada tahap pembebasan lahan.
Tetapi meskipun belum semua proyek jalan telah rampung, dinamika di tingkat bawah menjadi semakin dinamis. Dinamika ini terutama berkaitan dengan semakin tingginya proses jual beli lahan oleh investor, pertumbuhan sejumlah proyek perumahan, perubahan lahan pertanian menjadi perumahan, pemindahan sejumlah kampus ke wilayah ini dan juga semakin terdesaknya masyarakat petani local ke wilayah pedalaman akibat proses jual beli atau proses pengambilalihan paksa lahan pertaniannya. Menurut pengakuan bupati kabupaten gowa misalnya memproyeksikan ada 500 perumahan di kelurahan pattalassang. Sementara sejak 2005 pemodal-pemodal besar sector property sudah mulai membangun di wilayah ini. Di antaranya group ciputra yang menggandeng mitra local Idris Manggabarani dan Rizal Tandiawan dalam proyek perumahan elite citra land Celebes seluas 33 hektare di kelurahan paccinongan kabupaten gowa. Idris terkenal sebagai pengusaha property di bawah bendera PT Nusasembada Bangunindo, sedangkan Rizal adalah pemilik PT Suzuki Sinar Galesong yang kini membangun kerajaan bisnis di sektor properti. Bahkan sekarang group ciputra di bawah PT ciputra fajar mitra sedang membangun kompleks perumahan ekonomis di kelurahan paccinnongan seluas 21 hektar. Ada juga BSA Land yang sedang membangun real estate royal spring di atas lahan seluas 31 hektar di desa samata kabupaten gowa. 
Pertumbuhan pesat di sector property ini menyebabkan perubahan lanskap,  perubahan ruang, perubahan tata guna lahan di wilayah-wilayah yang di lalui oleh proyek jalan mamminasata ini. Bahkan lebih dari itu, wilayah-wilayah yang dilalui oleh jalan mamminasata sekarang telah berubah dengan sangat cepat baik dari sisi ruang (space), populasi, kondisi demografis dan hubungan-hubungan social yang kian kompleks akibat adanya perumahan-perumahan baru di sekitar perkampungan lama warga desa atau di atas lahan-lahan pertanian dan sengketa serta konflik agrarian menjadi semakin meningkat. Menurut catatan badan pertanahan kabupaten gowa telah terjadi 24  konfilk dan sengketa agrarian di jalur-jalur yang dilalui proyek mamminasata di kabupaten gowa. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 6 kasus.
Kondisi-kondisi yang semakin kompleks inilah yang menjadi titik berangkat buku ini. Terutama pada dinamika perubahan ruang dan perubahan-perubahan hubungan social serta konflik yang terjadi seiring dan disebabkan –secara langsung ataupun tidak langsung- oleh pembangunan proyek  jalan mamminasata ini.
B.     Tinjauan Pustaka
Penelitian dengan tema mengenai perluasan kota pernah dituliskan dengan judul Ekonomi Politik Pertumbuhan Kota oleh Ramlan Surbakti (1995)[1]. Tulisan ini mengulas mengenai dampak pertumbuhan kota bagi pertumbuhan wilayah yang tidak adil antara wilayah pusat dan wilayah di luarnya. Tulisan ini lebih jauh mengungkapkan bahwa perkembangan perencanaan pembangunan telah menyebabkan ketidakadilan pembangunan, bukannya pemerataan pembangunan antara kota dan desa.
Tulisan lain yang mengulas masalah serupa adalah Meluasnya Spekulasi Tanah Di Jabotabek oleh Bernard Dorleans (1994)[2]. Tulisan ini mengemukakan mengenai maraknya spekulasi tanah di sekitar Jakarta akibat perluasan kota jakarta menjadi Jabotabek. Spekulasi ini menyebabkan semakin tingginya  harga tanah dan makin tergusurnya warga miskin perkotaan ke wilayah pinggiran kota yang lebih jauh.
Bahkan, dua tahun sebelumnya, di tahun 1992, Djoko Suryanto[3] menulis Bias kota Besar Serupa Jakarta yang mengemukakan perkembangan kota jakarta akibat muculnya ide pengembangan mega kota Jabotabek. Ide Jabotabek, kata Djoko, adalah ide pembangunan kota yang telah disebut oleh seorang konsultan Bank Dunia di tahun 1962. Karena itu meskipun baru dicetuskan di sekitar tahun 1974 sebagai konsep pembangunan di kota Jakarta, bukanlah suatu hal yang baru. Tulisan ini juga mengulas pertumbuhan kota jakarta sejak abd ke-17 yang kemudian meluas wilayahnya hingga kini. Ketiga tulisan di atas dimuat dalam jurnal prisma di tahun 1992,1994 dan 1995.
Pada tahun 2009, jurnal Balairung mengangkat fokus mengenai perkembangan kota. Salah satu tulisan di antaranya menjelaskan mengenai perkembangan kota besar yang menimbulkan kerentanan berjudul Problematika Kehidupan Kota Dan Strategi Menuju Suistainable City. Tulisan ini diungkapkan oleh Hadi Sabari Yunus[4], seorang ahli geografi perkotaan UGM. Dalam tulisannya, hadi mengulas mengenai trend pengembangan mega city yang telah banyak dilakukan di berbagai tempat. Beberapa contoh bisa disebutkan: klaang-Valley Corridor yang menghubungkan Kuala Lumpu, Shah Alam dan Klaang; Jabotabek yang menghubungkan Jakarta, Bogor, Tangerang Bekasi; Manila-Quezon d Filipina;Osaka-Kobe, Tokyo-Yokohama di Jepang; Beijing-Tianjin Hongkong-Guangzhu di China; Seoul-Puson di Korea dan Taipei-Kaosiung di Taiwan.
Studi yang lebih dekat adalah Pembangunan Mamminasata dan Proses Eksklusi sistem Nafkah Masyarakat. Studi kasus kabupaten Maros, Kabupaten Gowa[5]. Tulisan ini merupakan skripsi sarjana di jurusan ilmu pertanianUiniversitas Hasanuddin yang ditulis Rimarti Anggun Widiatri. Tulisan ini menggunakan teori pembangunan, govermentality Fuchoult yang dikonseptualisasi oleh Tania Murray Li dan teori The Power of Exclution Tania Li. Proyek pembangunan mamminasata sebagai salah satu bagian proyek dalam MasterPlan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) bertujuan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dari aras perkotaan yang akan menarik investasi pihak swasta. Efek dari pembangunan Mamminasata terhadap perubahan livelihood masyarakat setelah lahannya dilepaskan, masyarakat memiliki daya penyesuaian (adaptability) yang lemah, yakni semakin tingginya tingkat pengangguran, ketidakpastian dan ketidakamanan mata pencaharian; ada pekerjaan namun serabutan, menjadi komuter/migran sirkuler.
C.    Pendekatan Teoritik
Produksi Ruang: Jalan Raya Sebagai Ruang
Jalan-jalan modern di Hindia, selain banyak hal hebat yang dilakukannya, sejak awal menjadi medan pertempuran dan ruang dimana orang belanda di koloni itu jelas-jelas tak pasti tentang diri mereka sendiri. (2006;14)
Rudolf Mrazek

Ada banyak peran dan makna jalan bagi suatu kota. Jalan menstrukturkan ruang kota. Ia membagi-bagi kota. Ia juga menghubungkan berbagai tempat dalam kota. Pada setiap kota, jalan lahir bersamaan jalan lahir bersamaan waktu dengan lahirnya kota itu. Di setiap kota dapat ditemukan suatu jalan yang utama dan pertama menjadi cikal bakal kota tersebut.[6]
Dari pernyataan di atas dapat ditarik pertanyaan mengenai siapa yang mengkonstruksi ruang bernama jalan ini? Bagaimana ia diproduksi? Apa yang direpresentasikan oleh ruang kota tersebut? Untuk siapa jalan tersebut dibangun dan siapa yang paling diuntungkan dari pembangunannya? Membincangkan jalan raya sebagai ruang, dimana proses produksi kapitalis berada di dalamnya, Lavebre memberikan kita argumentasi alternatif. Bagi Lavebre ruang adalah tempat dimana proses produksi dijalankan dan karena itu mesti dilihat bagaimana bentuk-bentuk representasi ruang yang berada di dalamnya. ‘Representasi ruang, kata Lavebre, sebagaimana dikutip George Ritzer dan Douglas J Goodman[7],  adalah ruang yang dikonsepsikan oleh para elit-elit sosial’. Representasi ruang adalah ciptaan kelompok dominan.[8]
Klasifikasi jalan raya dan subjek-subjek yang secara potensial bisa berada di dekatnya; jalan kecil (gang) serta bagaimana gang ini dipersepsi dan dikonstruksi bagi subjek seperti apa; apa saja yang layak di tempatkan di jalan raya dan apa yang harus di sembunyikan di gang; dimana saja jalan utama, dimana sebuah gedung yang bermakna secara sosial layak di tempatkan dan jalan seperti apa yang harus ada untuk menjadi sarana baginya; jalan apa yang dikonstruksi dalam politik sebagai jalan yang ‘penting’. Siapa yang menentukan itu semua? Di sinilah kita bisa melihat bahwa ruang, sebagaimana dikonsepsikan Lavebre, adalah ruang yang dikonstruksi oleh elit. Elit disini adalah kelompok sosial yang-baik dalam corak produksi kapitalis maupun feodal- memegang kekuasaan untuk menentukan arah pembangunan dan perubahan ruang. Jalan-jalan penting yang dekat dengan gedung-gedung publik, jalan raya depan istana presiden, jalan mulus menuju pabrik-pabrik dan kompleks-kompleks industri yang sering disaksikan di kota-kota adalah fakta-fakta historis bagaimana ‘ruang direpresentasikan’ secara politis oleh kepentingan-kepentingan elit sosial di tempat tersebut. Dan juga yang penting ditegaskan di sini bahwa ruang ini semua lahir dipengaruhi oleh corak produksinya masing-masing. Seperti dicatat Arianto Sangaji ‘Di dalam masyarakat dengan corak produksi kapitalis, produksi ruang berorientasi kepada kepentingan kapital; komoditi harus bisa diproduksi dan disirkulasi secara mudah. Menurutnya Lavebre, setiap masyarakat — atau setiap corak-produksi — menghasilkan ruang untuk kebutuhannya sendiri. Dengan kata lain, perbedaan corak produksi menciptakan ruang berlainan’.
Lafebvre berpendapat bahwa ruang memainkan beragam peran di dunia sosio-ekonomi. Pertama, ia dapat menjalankan peran salah satu dari begitu banyak kekuatan produksi (kekuatan lain yang lebih tradisional adalah pabrik, alat dan mesin). Kedua, ruang itu sendiri dapat berupa beragam komoditas yang dikonsumsi (misalnya oleh pelancong yang mengunjungi Disneyland), atau ia dapat dikonsumsi secara produktif (misalnya tanah tempat dibangunnya pabrik). Ketiga, secara politis ia penting memfasilitasi control system (membangun jalan untuk memfasilitasi gerak tentara untuk menghentikan pemberontakan). Keempat, ruang memperkuat reproduksi hubungan produktif dan hak milik (misalnya komunitas-komunitas mahal bergerbang bagi para kapitalis dan kawasan kumuh bagi orang miskin). Kelima, ruang bisa berbentuk supra struktur yang, misalnya, terlihat netral namun menyembunyikan basis ekonomi yang memunculkannya dan yang jauh dari netral. Jadi system jalan raya bisa jadi terlihat alamiah namun menguntungkan perusahaan kapitalis yang diizinkan memindahkan bahan mentah secara mudah dan murah.[9]
Jadi dengan logika Lafebvre ini bisa dilihat bahwa jalan raya sebagai ruang bukanlah sesuatu yang di luar konstruksi sosial sebagaimana makna-makna yang seringkali diproduksi oleh resim teknokratik. Ia saling berkait dengan kondisi relasi sosial dan relasi produksi yang memproduksi ruang tersebut. Jalan adalah ruang khalayak, ruang negosiasi, ruang sosialisasi. Jalan dihidupi oleh budaya manusia, dan ia hidup di dalam budaya kita, mendiami antara lain bahasa kita.[10] Di dalam ruang ini, meminjam Laclau dan Mouffe, ada subjek politik yang sedang berada dalam sebuah pertarungan posisi. Dalam masyarakat kapitalis, ruang memiliki posisi yang sangat vital sebagai modal statis bagi produksi kapitalis dan sebagai ruang dimana relasi eksploitasi dijalankan sekaligus disamarkan. Kata Lafebvre ‘masalah terbesarnya adalah representasi ruang elit terlalu mendominasi praktik spasial dan ruang representasional sehari-hari.[11]Karena dominasi kelompok elit dalam representasi ruanglah maka subjek-subjek politik lain yang berkepentingan dengan ruang tersebut melakukan langkah-langkah yang memungkinkan untuk melakukan perang posisi agar mendapatkan ruang representasional yang layak. Dalam kasus-kasusnya di berbagai tempat memperlihatkan bahwa subjek-subjek politik seperti kaum miskin kota, mahasiswa dan elemen sosial lain yang marjinal itu menjalankan politiknya dalam sebuah perang posisi di jalan raya. Mereka mensubversi makna-makna yang ajeg dan seringkali dijadikan makna maenstream oleh kelompok elit tentang siapa saja yang layak dianggap pengguna jalan dan apa saja aktivitas yang pas dianggap sebagai ‘aktivitas’ di jalan raya. Jadi, bagi Lafebvre, jelas bahwa ruang ini diproduksi dan direpresentasi oleh kelas elit tetapi dalam produksi ruang oleh kelas elit ini elemen sosial lainnya juga secara aktif melakukan perlawanan atas produksi dan representasi tersebut.
Setidaknya, realitas ini ditanggapi Lafebvre lebih lanjut bahwa untuk mengkaji produksi ruang ada dua hal yang mesti dikemukakan. Pertama, perhatian kita harus beralih dari sarana produksi menuju ruang produksi. Kedua, Lafebvre meletakkannya dalam konteks arah perubahan sosial yang dikehendaki. Jadi, kita hidup di dunia yang ditandai oleh cara produksi yang berlangsung di dalam ruang. Ini adalah dunia dominasi dimana control dijalankan oleh Negara, kapitalis dan borjuasi.[12] Jalan sebagai ruang sosial dimana pertarungan posisi terus terjadi antara subjek-subjek politik di dalamnya, seringkali dimenangkan dominasinya oleh kelas elit, kapitalis dan bojuasi.
Mirip dengan Lafebvre yang berkonsentrasi pada ruang, menurut Massey ruang sosial terbentuk secara relasional dari eksistensi bersama antara hubungan dan interaksi sosial. Massey mengusulkan argumen pokok mengenai ruang:
-          Ruang adalah sebuah konstruksi sosial
-          Dunia sosial terkonstruksi secara spasial (berdasarkan ruang)
-          Ruang sosial tidak statis tapi dinamis, terbentuk oleh hubungan-hubungan sosial yang terus berubah
-          Ruang terkait dengan persoalan kekuasaan dan simbolisme, yakni ‘geometri-kekuasaan’ ruang (Massey, 1994: 3)[13]
Jadi bagaimana ruang bernama ‘jalan raya’ itu diproduksi? Mengikuti Lafebvre, harus dilihat ruang representasi dan kelompok dominan dan corak produksi yang mengkonstruksi ruang tersebut. Dalam masyarakat kapitalis pengandaian kontrol kekuasaan adalah mutlak berada di tangan kapitalis yang menguasai sarana produksi dan juga ruang produksi. Atau dalam gambaran Arianto sangaji ‘Di dalam masyarakat dengan corak produksi kapitalis, produksi ruang berorientasi kepada kepentingan kapital; komoditi harus bisa diproduksi dan disirkulasi secara mudah. Menurutnya, setiap masyarakat — atau setiap corak-produksi — menghasilkan ruang untuk kebutuhannya sendiri. Maka, tentu, jalan raya dikonstruksi dan direpresentasikan berdasar pada kepentingan dari kelompok dominan yang memproduksi ruang tersebut, yakni kapitalis untuk akumulasi kapital. Meskipun kondisi ini seringkali tidak disadari oleh elemen-elemen sosial yang menggunakan jalan. Seperti dalam ungkapan Marco Kusumawijaya yang meneguhkan Lavebre berikut: ‘Tanpa kita sungguh sadari, jalan-jalan kita telah (makin) dirancang dengan penuh bias luar biasa, ialah dengan visi bahwa ia diutamakan bagi kendaraan bermotor, bahkan lebih spesifik lagi bagi mobil pribadi. Dimensi jalan, permukaannya, geometrinya, tanda-tanda padanya lebih menyapa mobil pribadi daripada pejalan kaki atau sepeda.’
Jalan sebagai Model “Ekonomi Ruang” kapitalisme
Selain sebagai ruang sosial dalam makna seperti yang dikemukakan Lafebvre di atas, jalan juga dipersepsikan oleh sebagian teoritisi sosial lainnya sebagai model ekonomi ruang. Dalam argumentasi ini akan dikemukakan apa yang disebut Harvey sebagai ekonomi ruang. Ekonomi ruang (space echonomy) bagi Harvey digambarkan dalam penjelasannya bahwa ‘pertukaran barang dan jasa (termasuk tenaga kerja) hampir selalu menimbulkan perubahan-perubahan dalam lokasi. Pertukaran-pertukaran tersebut menimbulkan serangkaian gerak spasial yang saling bertemu sehingga menciptakan suatu geografi interaksi manusia yang khas. Gerak-gerak spasial ini terhambat oleh adanya friksi jarak dan karena itu jejak yang mereka tinggalkan pada dunia selalu merekam efek-efek dari friksi-friksi tersebut, dan sering menyebabkan aktifitas-aktifitas menjadi terhimpun ke dalam ruang dengan cara-cara yang meminimalisir friksi tersebut. Pengelompokan tenaga kerja secara teritorial dan spasial (perbedaan antara desa dan kota merupakan salah satu bentuk perbedaan awal yang paling mencolok) muncul dari pertukaran-pertukaran yang terjadi di atas ruang ini. Aktifitas kapitalis karenanya menghasilkan pembangunan geografi yang tak seragam, bahkan meski tidak ada perbedaan geografi dalam hal sumber daya dan kesempatan-kesempatan fisik yang merupakan faktor bagi munculnya logika diferensial dan spesialisasi regional dan spasial. Akibat kompetisi, kapitalis-kapitalis individual mengejar keuntungan kompetitif dan memanfaatkan struktur spasial ini dan karena itu cenderung untuk tertarik atau terdorong untuk bergerak ke lokasi-lokasi dimana biaya-biayanya lebih rendah atau tingkat labanya lebih tinggi. Surplus kapital di satu tempat bisa menemukan pekerja di tempat lain dimana peluang-peluang yang menguntungkan belum lagi tergarap. Keuntungan-keuntungan lokasi memainkan suatu peran yang sama bagi kapitalis-kapitalis individual sebagaimana peran yang dimainkan oleh keuntungan-keuntungan tekhnologis, dan dalam situasi-situasi tertentu, keuntungan lokasi bisa mensubtitusi keuntungan tekhnologi.’  
Apa yang disebut ekonomi ruang oleh Harvey sebenarnya merupakan kelanjutan sekaligus kritik Harvey terhadap konsep lavebre yang mampu menjelaskan bagaimana ruang diproduksi tetapi tidak mampu merinci baaimana kapitalisme bertahan dalam sebuah logika ruang. Pengakuan ini ditulis Harvey “kapitalisme mampu bertahan hidup sedemikian lama melewati berbagai krisis dan reorganisasi serta lolos dari prediksi-prediksi suram dari kalangan kiri maupun kanan yang meramalkan bahwa kapitalisme akan runtuh tidak lama lagi. Daya tahan hidup dari kapitalisme ini


Buku ini ditulis Oleh Drs. Ibrahim, M.Pd dan Muh. Ridha, S.Hi, MA sebagai Dosen Pengajar di UIN Alauddin Makassar  . Untuk lebih lanjutnya mengenai buku ini silahkan di download di link di bawah ini.


Kamis, 03 Maret 2016

Buku Daras Filsafat Islam Klasik




Pendahuluan:
Tentang pengertian dan sejarah singkat Filsafat



A.    Pengertian Filsafat
Secara umum bab ini menguraikan seputar pengertian umum, ruang lingkup pembahasan filsafat, dan sejarah kelahiran cara berfikir filsafati. Dengan demikian, bab ini sedapat mungkin dimulai dari unsur paling mendasar dari studi buku ini yakni pengertian filsafat baik secara etimologis maupun secara istilah serta menelusuri pendapat tokoh-tokoh pemikir filsafat atas apa yang ‘disebut filsafat’. Selanjutnya, diuraikan objek pembahasan filsafat seacar umum. Khusunya, sejarah perkembangan filsafat Islam pada masa awal.
Secara etimologis, kebahasaan, kata filsafat berasal dari  bahasa Yunani yang bersumber dari akar kata Pilos (cinta), Shopos (kebijaksanaan), tahu dengan mendalam, hikmah. Filsafat menurut terminologi: ingin tahu dengan mendalam (cinta pada kebijaksanaan). Menurut Ciceros (106-43 SM), penulis romawi, orang yang pertama memakai kata-kata filsafat adalah Phytagoras (497 SM), sebagai reaksi terhadap cendekiawan pada masanya yang menamakan dirinya “ahli pengetahuan”. Phytagoras mengatakan bahwa pengetahuan dalam artinya yang lengkap tidak sesuai untuk manusia. Tiap-tiap orang akan mengalami kesukaran-kesukaran dalam memperolehnya dan meskipun menghabiskan seluruh umurnya. Namun Ia tidak akan mencapai tepinya. Jadi pengetahuan adalah perkara yang dikaji dan yang diserap sebagian darinya tanpa mencakup keseluruhannya. Oleh karena itu, bagi Phytagooras filosof bukan ahli pengetahuan, melainkan pencari dan pencinta pengetahuan[1]. Pengertian Phytagoras mengenai pencari pengetahuan inilah yang dianggapnya sebagai pengertian hakiki menjadi seorang filosof.
Sedangkan menurut Sidi Gazalba kata filsafat berasal dari bahasa Yunani. Bangsa Yunanilah yang pertama-tama berfilsafat, seperti yang lazim dipahamkan orang sampai sekarang. Kata filsafat bersifat majemuk yang berakar dari kata Philos dan Sophia. Kata philos berarti sahabat, sedangkan shopos yang berarti pengetahuan dan atau bijaksana (Inggris; Wisdom, Arab: Hikmah). Maka Philosopia secara etimologi bermakna cinta terhadap pengetahuan bijaksana (mendalam), karena itu filosof mengusahakan untuk memilikinya[2].
Pudjawijatna menerangkan juga bahwa “filo” artinya cinta dalam arti seluas-luasnya yaitu “ingin” dan karena ingin  maka filosof selalu berusaha untuk mencapai yang diinginkannya. “Sofia” artinya kebijaksanaan, arinya pandai, mengerti dengan mendalam. Syekh Mustafa Abdurraziq, setelah meneliti pemakaian kata-kata filsafat di kalangan umat Islam, berkesimpulan bahwa kata-kata Hikmah dan hakim dalam bahasa arab dipakai dalam arti “Filsafat dan Filosof” dan sebaliknya, mereka mengatakan Hukama-ul-Islam atau Falasifatul-Islam.[3]
Berdasarkan penjelasan umum di atas jelaslah bahwa filsafat berasal dari kata bahasa Yunani yang secara umum bermakna “cinta kepada kebijaksanaa”.  Yaitu pengetahuan yang mendalam (kebenaran). Pengertian semacam ini digunakan secara luas oleh para pemikir filsafat dan para sejarawan pemikiran. Meski demikian belum mampu menjelaskan dan merepresentasi arti kata itu sendiri. Sebagiaman kata Sidi Gazalba, pengertian filsafat sendiri terdapat pertikaian antara para pemikir filsafat mengenai pengertian filsafat ini. Kata benda saja masih sering diperdebatkan defenisi dan batasannya apalagi arti kata yang lebih absatrak seperti filsafat[4].  Karena itu, untuk melihat lebih luas mengenai pengertian filsafat, bagian berikut ini akan memberikan pengertian filsafat dari tokoh-tokoh pemikir barat maupun tokoh-tokoh pemikir Islam. Deskripsi ini diharapkan mampu memberikan penjelasan betapa luas dan dalam khasanah berfikir filsafat menurut tokoh-tokoh pemikir.
B.    Dari Barat hingga Islam: Pengertian Filsafat dari berbagai tokoh
      Filsuf Barat
Pengertian filsafat yang telah dideskripsika tersebut di atas baik menurut bahasa maupun menuru para pakar (filosof), maka selanjutnya, berikut diketengankan pandangan filosof tentang filsafat, baik filosof dari dunia Barat maupun pandangan filosof dari dunia Timur.
Plato Mengatakan, filsafat tidaklah lain daripada pengetahuan tentang segala yang ada. Masa/kurun plato belum tumbuh differensiasi pengetahuan. Belum ada batas ilmu dan filsafat.
Aristoteles beranggapan kewajiban filsafat adalah menyelidiki sebab dan asal segala benda. Dengan demikian filsafat merupakan ilmu yang sangat umum.
Cicero mengatakan, filsafat merupakan pengetahuan tentang ilmu tinggi-tinggi saja dan jalan untuk mencapai ilmu itu. Filsafat ialah induk segala ilmu dunia, dan ilmu kepunyaan dewata. Sekarang orangpun beranggapan, filsafatlah yang menggerakkan, yang melahirkan berbagai ilmu. Suatu masalah yang dibicarakan filsafat dapat menggerakkan ahli untuk melakukan riset. Hasil riset menumbuhkan ilmu.
Epicuros memandang filsafat sebagai jalan mencari kepuasan dan kesenangan dalam hidup. Ia berguna buat praktek hidup di dunia. Filsafatt membentuk pandangan dunia dan sikap hidup.
Pemikir era modern awal eropa memberikan pengertian mengenai filsafat secara beragam. Imanuel Kant memberikan pengertian mengena filsafat sebagai pokok dan pangkal segala pengetahuan dan pekerjaan. Diajukannya empat pertanyaan untuk menggariskan lapangan filsafat:
1.       Apa yang bisa kita ketahui? Dijawab oleh filsafat metafisika
2.       Apa yang boleh kita kerjakan? Dijawab oleh filsafat etika.
3.       Sampai dimanakah pengharapan kita? Dijawab oleh filsafat agama.
4.       Apakah yang dinamakan manusia? Dijawab oleh filsafat antropologi. 
       Pengertian filsafat yang telah dideskripsikan tersebut di atas menggambarkan bahwa filsafat adalah ilmu yang meliputi berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Filsuf muslim
Selanjutnya, penulis mendeskripsikan para filosof muslim berikut ini;
Menurut Harun Nasution filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tak terikat tradisi, dogma dan agama) dan dengan memikirkan sedalam-dalamnya hingga sampai kedasar persoalan. Alfarabi (wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibnu Sina menyatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya[5].
Fuad Hassan, guru besar psikologi universita Indonesia menyimpulkan bahwa filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berfikir secara radikal dalam arti mula dari radix suatu gejala dari akar suatu masalah yang hendak dimasalahkan, dan dengan jalan penjajangan yang radikal filsafat berusaha untuk sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang universal. Berbeda dengan Alfarabi yang menjelaskan bahwa filsafat ialah mengetahui semua yang wujud karena ia wujud (al ilm bil maujudat bima hiya maujudah). Ihwan al-Shaffa berargumen bahwa filsafat itu bertingkat-tingkat, pertama cinta kepada ilmu, kemudian mengenai hakekat wujud-wujud menurut kesanggupan manusia, dan yang terakhir ialah berkata dan berbuat sesuai ilmu[6].

C.  Sejarah Perkembangan Filsafat
Filsafat awal berkembang pada sekitar abad ke-enam hingga abad keempat SM. Banyak perdebatan mengenai siap dan dimana pertama-tama muncul pemikiran filsafat. Tetapi yang paling dominan mengisi penjelasan-penjelasan mengenai sejarah tumbuh dan berkembangnya filsafat selalu kita berawal pada era Yunani (kuno dan klasik) ketika Thales, Anaksimenes dan anaksimandro (yang banyak digolongkan sebagai filsuf kuno), sokrates, plato ataupun arsitoteles (banyak digolongkan dalam sejarah pemikiran sebagai pemikir klasik). Meski demikian di era yang hampir bersamaan sebenarnya di tempat-tempat lain dunia sudah mula muncul para filsuf tersohor yang pengaruhnya menghunjam jauh hingga kini. Sebagai permisalan saja dapat disebut Sidarta Gautama (563-483 SM) seorang pemuda yang gelisah mencari makna hidup yang sesungguhnya; berkelana berkeliling India. Akhirnya ia mengajarkan ketenangan dan kedamaian sebagai jalan hidup. Ia kemudian dikenal sebagai “sang Budha”. Ide-idenya menentang seluruh India dan berbeda dengan ajaran Hindu. Ajarannya kemudian mengubah dunia, menyebar ke seluruh India hingga ke seluruh belahan dunia hingga kini[7]. Di era yang hampir bersamaan di Cina lahir dua orang filsuf yang sangat berpengaruh,  yaitu kongfusius (Kong Fusi) (551-479 SM)   dan Lao-Tzu. Keduanya memberikan defenisi filsafat cina yang menekankan harmoni sebagai keadaan ideal yang baik bagi masyarakat maupun perseorangan; dan masing-masing berpegang pada pandangan yang luas atas kehidupan seseorang[8].  Tidak hanya pada ketiga situs, di belahan dunia yang telah disebutkan di atas saja, di timur tenga, persia seorang bernama Zarathustra dari Balkh, atau zoroaster (kira-kira 625-551 SM) mulai bergerak kearah monoteisme moral yang komprehensif. Zaratusra juga membela arti etika yang sangat berpengaruh sebagai konflik antara kekuatan-kekuatan metafisika. Ahura mazda berada di pihak baik, sebagai lawan dari kegelapan mutlak yaitu jahat; dan menurut zarathustra, kebaikan dan keburukan sama-sama ada di dalam diri kita semua[9].
Menurut penjelasan di atas, sejarah filsafat dimulai diberagai belahan dunia. Di Yunani, di India, Di China ataupun di timur tengah, dan lan sebagainya. Tetapi mereka semua berada pada fase-fase yang disepakati sebagai awal mula orang berfikir filsafat di sekitar abad keenam hingga abad keempat sebelum masehi. Periode tersebut digambarkan oleh Robert C Solomon dan Kathleen M Higgins (2003) bahwa di era ini adalah periode aksial dan asal usul filsafat:
“Suatu ketika di antara abad keenam dan keempat sebelum masehi, perkembangan luar biasa terjadi di sejumlah daerah tempat secara terpisah di seantero bumi. Di berbagai wilayah di selatan, di utara dan di timur mediterania, di Cina, di India dan beberapa wilayah, pemikir kreatif mulai menantang dan melampaui kepercayaan-kepercayaan religius, mitologi dan folklor masyarakatnya yang sudah mapan. Pemikiran mereka makin abstrak. Pertanyaan-pertanyaan mereka  menyelidik. Jawaban-jawaban mereka semakin ambisius, semakin spekulatif, dan semakin memicu kemarahan. Mereka menarik para murid dan pengikut. Mereka membentuk sekolah, pemujaan dan agama-agama besar. Mereka adalah “para filsuf” pencari kebijaksanaan, yang tidak puas dengan jawaban-jawaban gampangan dan prasangka-prasangka populer. Mereka mendadak muncul dimana-mana. Walaupun tidak diketahui banyak tentang dunia intelektual yang mendahului mereka, bahkan sangat sedikit tentang mereka, kita nyaris bisa memastikan bahwa karena mereka dunia tak pernah lagi sama persis dengan dunia sebelumnya.
Sebagian terlihat di pantai-pantai timur Mediterania, di Yunani, dan Asia Kecil (Turki masa kini). Kelompok-kelompok kecil para filsuf yang serba ingin tahu dan kadang-kadang bertabiat buruk ini mempertanyakan penjelasan penjelasan populer tentang alam yang didasarkan pada tingkah dewa-dewi. Mereka adalah orang pintar, orang bijak, yang percaya akan kecerdasannya sendiri, bersikap kritis terhadap opini populer, dan persuasif terhadap para pengikutnya. Mereka mengkaji kembali persoalan-persoalan kunomengenai asal-usul alam dan segala sesuatu. Mereka tak puas lagi dengan mitos dan cerita-cerita yang lazim (yang dahulu menarik): tentang persetubuhan tanah dengan langit, tentang Venus yang muncul di lautan dan Zeus yang melontarkan halilintar. Mereka mula menolah konsepsi populer mengena dewa-dewi demi bentuk-bentuk pemahaman yang kurang manusiawi (kurang antropomorfis). Mereka mula menantang pengertian-pengertian akal sehat tentang “sifat benda-benda” dan membedakan antara realitas “sejati” dengan penampakan benda-benda.”
            Gambaran di atas menunjukkan bahwa semangat berfikir para filsuf dimula pada abad keenam hingga abad keempat sebelum masehi. Setelah periode itu, Robert C Solomon dan Kathleen M Haggins (2003) menggambarkan dalam buku sejarah filsafat menggambarkan bahwa periode setelah itu kehidupan umat manusia berada dalam kekeangan agama. Era ini disebut abad pertengahan, periode sekitar abad ketiga Sebelum Masehi hingga sekitar abad ke 14 Masehi. Peride dimana dominasi agama begitu kuat mempengaruhi alam pikiran manusia.
            Tetapi di belahan dunia yang lain, dipertengahan era kegelapan (abad pertengahan eropa), peradaban Islam mulai muncul dan menjadi pembaharu pemikiran-pemikiran filsafat yang diserap  dari pemikiran klasik Yunani, persia dan sejumlah peradaban lain yang mempengaruhinya. Hal inilah kemudian yang menjadi rantai penjelas bagaimana “ilmu pengetahuan modern” yang menimba ilmu amat dalam pada “Filsafat klasik Yunani”  dapat sampai ke pangkuan peradaban Eropa modern di sekitar abad kelima belas Masehi. Ada peran peradaban Islam dan para filsuf muslim hal ini (akan dibahas lebih rinci pada bagin ketiga buku ini).
            Perlahan-lahan filsafat menyebar kemana-mana dan menjadi semangat saman (zeit geist) untuk mempertanyakan, meragukan dan menggugat kepercayaan-kepercayaan utama gereja dan istitusi-institusi yang menopang legitimasinya di abad pertengahan. Hal inilah yang kemudian melahirkan apa yang disebut para serawan sebagai renaisance, abad pencerahan. Era inilah yang menjadi pintu masuk kelahiran ilmu pengetahuan moder hingga sampai kepada dunia pengetahuan yang terspesialisasi dengan kompleks pada era dewasa ini.

Buku ini ditulis Oleh Drs. Ibrahim, M.Pd sebagai Dosen Pengajar Filsafat Islam  di Fakultas Ushuluddin UIN Alauddin Makassar  . Untuk lebih lanjutnya mengenai buku ini silahkan di download di link di bawah ini.